Jumat, 29 November 2019

Allah Pencemburu


Ketika mendengar kata cemburu, yang berada dalam benak pikiran bahwa cemburu adalah sifat iri yang biasa digunakan dalam konteks “iri terhadap seseorang yang memiliki sesuatu yang tidak kita miliki”. Rasa cemburu manusia bisa dikarenakan orang yang disayangi berdekatan dengan orang lain yang menurut penilaiannya orang tersebut akan merebut kekasihnya. Atau juga sifat cemburunya seseorang itu karena kemampuan atau keterampilan dan juga karena ketampanan. Faktanya tidak hanya manusia saja yang memiliki rasa cemburu, Allah pun juga memiliki rasa cemburu. Persoalannya sekarang adalah apakah sifat cemburu manusia itu sama atau tidak dengan sifat cemburu yang dimiliki oleh Allah SWT.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda: “Allah pencemburu. Allah cemburu (marah sekali), kalau seorang yang beriman melakukan apa yang diharamkan Tuhan.“ (HR. Bukhari ke 1611)
Dari hadits diatas dapat diketahui bahwa cemburu yang dimiliki Allah SWT bukan karena cemburu atau iri terhadap sesuatu yang dimiliki oleh orang lain seperti cemburunya manusia, tetapi cemburu Allah SWT adalah bentuk kasih sayang terhadap hambaNya. Allah tidak suka atau marah sekali terhadap hambaNya yang beriman apabila mereka melakukan apa yang telah diharamkanNya. Allah melarang manusia melakukan apa yang sudah dilarangNya, karena Allah ingin manusia tidak merusak dirinya sendiri ke dalam jurang dosa dan maksiat, sehingga dapat menyebabkan hambaNya yang beriman masuk neraka. Allah SWT sangat sayang kepada orang yang beriman dan Allah hanya menginginkan manusia untuk melaksanakan apa yang diperintahNya dan meninggalkan apa yang telah dilarangNya.
Perlu diketahui bahwa sifat cemburu yang dimiliki Allah SWT sesuai dengan kemuliaanNya. Namun sifat cemburu Allah tidak boleh disamakan dengan sifat cemburu manusia. Sebagaimana sifat Allah yang lainnya. Kesamaan nama tidak harus menjadikan kesamaan hakikat. Jadi, walaupun seorang hambaNya mempunyai sifat cemburu dan Allah juga mempunyai sifat cemburu, namun hakikat dari dua sifat itu berbeda karena beda penyandarannya. Satu disandarkan kepada Allah azza wa jalla dan yang satu disandarkan kepada manusia sendiri.

Oleh: Yosi Ifroda